Cerpen Intan Yang Malang Karya IA_AI

Advertisement
Cerpen
Cerpen
Cerita pendek berikut ini merupakan salah  satu cerpen karangan saya sobat hehe, dalam cerpen ini mengisahkan seorang perempuan yang bernasib malang. Ingin tahu cerita selanjutnya? silakan baca cerita selengkapnya di bawah ini.

Intan Yang Malang
Oleh Imanuddin Akhmad Al-Islami

            Dipagi hari itu, Intan merasa ada yang aneh dalam dirinya. Intan tak mengetahui apa yang terjadi. Semua terasa seperti dunia tanpa cahaya sang pencerah “matahari”. Dia berpikir bahwa kemarin dia dalam keadaan baik-baik saja. Intan marah sambil berkata,
“Ya Tuhan kenapa dengan mataku ini? Apa diriku ini mengalami kebutaan. Sungguh aku tidak ingat apa-apa”.
Spontan Intan langsung memanggil Ibuku, “ Ibu, Ibu, kamu dimana? Apa yang terjadi kepadaku?”.
Ibunya menjawab, “ Ya, Ibu didapur, sayang.”
            Si Intan berulang kali memanggil Ibunya dengan nada yang lirih sedikit mengeluarkan air mata. Air mata Intan jatuh hingga daun ikut menangis juga. Bunyi tetes dari ait mata intan membuat kehidupan jadi terganggu. Setelah lama menunggu, hingga lantai kamar tidur Intan menjadi basah karena dipenuhi dengan air mata Intan yang terus menetes dari tadi. Ibunya datang menghampiri Intan yang sejak tadi menangis.
“ Ibu dari mana sih, dari tadi aku panggil nggak datang-datang.” Kata Intan kepada Ibunya dengan nada sedih.
Ibunya menjawab, “ Ibu tadi habis memasak, sayang.”
            “ Ibu, mata Intan ini kenapa, bu?” kata Intan.
            “ Mata Intan mengalami kebutaan, sayang”. Ibu menjawab dengan mata mengeluarkan air mata.
            “ Buta, bu!” kata Intan terkejut.
            “ Iya, sayang” jawab Ibu.
            “ Kenapa mata Intan buta, bu!” kata Intan dengan rasa ingin tahu.
            Ibunya hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari Intan. Intan terus bertanya kepada Ibunya, Intan ingin tahu kenapa matanya ini meenjadi buta. Namun Ibunya hanya diam dan terus diam. Ibunya tidak mau mengeluarkan kata dari mulut manisnya itu. Malah Ibunya hanya mengeluarkan air mata karena tidak tahan betapa sedihnya sang Ibu kepada anaknya yang sedang mengalami kebutaan itu. Ibunya tidak tega bila menceritakannya kepada Intan.
            “ Bu, kenapa dengan mata Intan”. Tanya Intan
            Ibunya hanya diam saja.
            “ kenapa bu?” Tanya Intan lagi.
            Ibunya terus diam dan terus meneteskan air mata. Intan terus menerus bertanya kepada Ibunya. Sia-sia saja Intan terus bertanya karena ibunya tetap terus terdiam menangis. Beberapa saat Ibu Intan langsung lari keluar kamar Karena tidak tahan melihat anaknya seperti itu. Intan terus dibayang-bayangi rasa ingin tahunya.

***
            Keesokan harinya. Hari ini hari yang sangat indah. Matahari memancarkan sinarnya yang berkilau. Suara burung-burung yang sedang bernyanyi, daun-daun pun ikut menari bersamanya membuat suasana menjadi tenang. Tapi berbeda dengan suasana dihati Intan, dihatinya terus memikirkan apa penyebab matanya ini menjadi buta. Sehingga suasana disekitar dia menjadi seperti tiada kehidupan didalamnya.
            Aku hari ini masih ingin mencari tahu kenapa dia menjadi buta. Aku memikirkan cara agar Ibunya mau menceritakannya. Aku tahu bahwa Ibuku pasti tidak akan tahu, tidak ada salahnya kalau aku menanyakannya. Kini waktunya untuk saparan pagi. Aku mendengar langkah kaki diselingi suara kicauan burung yang sangat merdu yang berada di luar kamarku, langkah itu semakin lama semakin mendekat menuju ke arahku. Tiba-tiba Ibu memegang tangan dan pundakku lalu menuntunnya menuju kearah meja makan. Intan dan Ibunya berjalan setapak demi setapak menuju arah meja makan.
            “ Intan, mari nak, kita sarapan dulu” kata Ibu Intan.
            “ Iya, bu” jawab Intan kepada Ibunya.
            Diwaktu selesai sarapan, Intan bertanya kepada Ibunya. Intan ingin tahu sebab matanya kenapa jadi buta. Waktu itu Ayah dari Intan sudah pergi berangkat bekerja. Karena tempat kerja Ayah Intan jaraknya jauh dari rumah yang mereka tinggali. Oleh sebab itu Ayahnya harus berangkat pagi-pagi.
            “ Ibu, Intan mau tanya lagi dong soal penyebab mata Intan jadi buta” tanya intan penasaran.
            “ Nanti ya Intan, Ibu bersihin meja makan dulu” jawab Ibu.
            “ Wah, ini pasti Ibu tidak akan memberi tahu intan lagi tentang penyebabnya” kata intan dalam hati kecilnya.
            Aku menunggu Ibu dengan duduk dikursi. Aku mendengar suara gesekan piring-piring yang ditumpuk, suara gelas, dan aku mendengar suara langkah kaki dari Ibuku. Aku diam di kursi sambil mengingat-ingat kejadian terakhir yang dulu sebelum aku jadi buta ini. Lama aku mengingatnya tapi kepalaku jadi pusing sekali. Langsung aku menghentikan andai-andaianku tadi. Kini meja makan sudah tak ada suara piring dan gelas lagi mungkin meja ini sudah bersih dari piring-piring dan sisa makanan bekas sarapan tadi. Aku mulai bertanya lagi pada Ibu.
“ Bu, jadi kenapa dengan mata Intan ini, bu” Tanya Intan sambil duduk.
Tapi Ibunya Intan belum member tahu Intan juga tentang penyebab matanya menjadi buta. Intan terus bersabar menunggu Ibunya untuk menceritakan penyebab kejadian matanya membuta. Rasa penasaran terus membayangi gadis kecil yang manis itu.
            Intan bangkit dari tempat duduknya, ia pergi keluar untuk melihat indahnya pemandangan dunia yang terlihat dari depan teras rumahnya. Tapi semua itu hanya terlihat gelap dimata Intan, dia sungguh ingin melihat lagi. Ia mulai menangis lagi ketika memikirkan kemalangannya ini. Kini Intan merindukan hari-hari bersama teman-temannya. Intan ingin main lagi bersama teman, ingin sekolah bersama temannya lagi. Sial, itu semua tak bisa aku lakukan lagi karena kecelakaan ini.
***
            Dua tahun sudah berlalu, Intan masih terbayang-bayang akan penasarannya itu. Selama ini Intan tak pernah diberitahu oleh ibunya. Ibunya selalu enggan untuk menjawab setiap pertanyaan dari Intan yang selalu menanyakan sebab kejadian yang menimpanya. Ayah pun tidak memberi tahu Intan.  Dalam hati intan mulai bicara.
            ” Ayah, Ibu, tolong beritahu Intan kenapa ini dengan mata Intan jadi buta begini.”
            “ Kenapa sih kalian tak mau beritahu Intan?”
            “ Apa Intan ini anak yang tak kuat menghadapi cobaan”
            “ Selama ini kan Intan sudah bertahan menahan ini semua. Dua tahun sudah Intan tersiksa dengan kejadian ini.”
            “ Ya Tuhan, kenapa sih dengan mataku ini. Kenapa tidak ada yang mau menceritakan penyebabnya. Apa salah hamba Ya Tuhan.”
            “ Aku hanya bisa pasrah kepada-Mu Ya Tuhan sang raja semesta alam”

Bagaimana sobat sukakah dengan cerpen karya saya? memang cerpen di atas tidak mempunyai bobot yang lebih, maklumlah cerpen ini saya buat pertama kalinya dan masih perlu banyak belajar. Apabila ada kritik atau saran silakan berkomentar di bawah iya.

Terima kasih
Share this article :
+
Apakah Anda menyukai postingan ini? Silahkan share dengan klik di sini
author-photo Kang Didin

Saya hanyalah orang biasa yang menyukai blogging dan mencoba berbagi pengalaman dengan yang lain tentang blogging dan SEO. Semoga bisa bermanfaat.

Follow me on: Facebook | Twitter | Google+
×
Previous
Next Post »
0 Blogger Comment
Facebook Comments
Terima kasih sudah berkomentar
Copyright © 2013. Wadahe Bahasa Indonesia - All Rights Reserved | Created by Kompi Ajaib Published by Ngonline06