Teori Pembelajaran Apresiasi Sastra Menurut Moody

Baca Juga

Teori Pembelajaran Apresiasi Sastra Menurut Moody - Sebelum kita sampai pada pembicaraan mengenai teori pembelajaran apresiasi sastra menurut Moody, ada baiknya Anda terlebih dahulu mengetahui prinsip ganda karyasastra. Menurut Moody (1971) karya sastra memiliki prinsip ganda sebagai berikut: Pertama, sastra sebagai pengalaman dan kedua, sastra sebagai bahasa. Sastra sebagai pengalaman artinya sesuatu yang harus dihayati, dinikmati, dirasakan dan dipikirkan. Dengan demikian, berdasarkan prinsip ini karya sastra yang kita sajikan dalam pengajaran apresiasi sastra hendaknya menyajikan pengalaman baru yang kaya bagi para siswa. Oleh karena itu, karya sastra tersebut harus memberikan pengaruh kepada kehidupan para siswa. Hal yang terutama harus dilakukan guru sastra adalah memberikan bimbingan agar para siswa menemukan makna karya sastra menurut mereka sendiri. Sikap yang paling tepat yang harus ditunjukkan guru sastra dalam kaitan ini adalah sikap 'pasif-bijaksana'. Artinya, guru lebih banyak memberikan kebebasan kepada para siswa untuk memberikan tafsiran. Ia hanya ‘berbicara’ pada saat yang benar-benar dibutuhkan.

Teori Pembelajaran Apresiasi Sastra Menurut Moody

Prinsip ganda berikutnya adalah sastra sebagai bahasa. Sebagai sebuah komunikasi yang menggunakan bahasa, karya sastra menggunakan teknik-teknik pemakaian unsur kebahasaan, misalnya pernyataan, keterangan, pembandingan, ungkapan, nada, dan tekanan kalimat. Dengan demikian, karya sastra harus dipelajari melalui analisis verbal. Guru sastra hendaknya memahami seluk-beluk kebahasaan yang dipakai dalam karya sastra yang disajikan kepada para siswa. Setelah memahami prinsip ganda yang terdapat dalam karya sastra, marilah kita menelusuri tata cara penyajiannya. Menurut Moody (1971) pembelajaran apresiasi sastra mengikuti penahapan berikut.
1. pelacakan pendahuluan;
2. penentuan sikap praktis;
3. introduksi;
4. penyajian;
5. diskusi; dan
6. pengukuhan.

Keenam tahap tersebut rinciannya sebagai berikut. Masing-masing disajikan secara rinci pada bagian berikut ini.

Pertama, pelacakan pendahuluan. Pada tahap ini guru mempelajari karya sastra. Pemahaman terhadap karya sastra penting agar guru dapat menentukan strategi yang tepat, dapat menentukan aspek-aspek yang perlu mendapat perhatian yang khusus dari siswa. Misalnya pengulangan yang kuat seperti yang ditunjukkan dalam puisi "Perempuan-perempuan Perkasa" pada larik yang berbunyi Perempuan-perempuan yang membawa bakul ... harus mendapat perhatian para siswa. Mengapa pengulangan ini demikian kuat.Apakah artinya? Apakah tidak memiliki efek bagi puisi ini secara keseluruhan? Kalau ada efeknya, bagaimanakah efek dari pengulangan ini? Hal lain yang harus diperhatikan dalam pelacakan pendahuluan ini ialah meneliti fakta-fakta yang masih perlu dijelaskan. Misalnya fakta yang terdapat dalam sajak "Karangan Bunga" bagi kakak yang ditembak mati siang tadi harus dicari penjelasannya. Syukur kalau mereka masih ingat peristiwa terbunuhnya Pahlawan Ampera itu dalam perspektif sejarah.

Pelacakan pendahuluan juga penting untuk menemukan cara penyajian pembelajaran apresiasi sastra yang tepat dengan mempertimbangkan hal-hal berikut: siapakah yang jadi sasaran penyair/pengarang itu apakah pribadi tertentu atau manusia pada umumnya. Misalnya siapa yang dituju oleh sajak "Perempuan-perempuan Perkasa" Hartoyo Andang jaya tadi, berbeda dengan sasaran sajak "Teratai" Sanusi Pane. Pertimbangan lainnya antara lain dari segi bagaimana pengarang menyajikan karyanya. Apakah pengarang - dalam hal ini penyair - menggunakan gaya monolog pada sajak "Doa" Chairil Anwar. Tuhan dalam sajak itu berfungsi sebagai apa? Hal lain yang harus diperhatikan yaitu apakah karya sastra itu bermakna tersirat atau tersurat. Walaupun karya sastra umumnya memiliki makna tersirat, tetapi ada pula karya-karya tertentu yang memiliki makna tersurat, misalnya sajak "Menyesal" karya Ali Hasjim. Berbecla dengan sajak "Menujuke Laut" karya Sutan Takdir Alisjahbana yang memiliki arti tersirat.

Tahap kedua dalam pembelajaran apresiasi sastra menuru Moody adalah penentuan sikap praktis. Yang dimaksud dengan penentuan sikap praktis di sini adalah bagaimana guru menentukan hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan penyajian pembelajaran apresiasi sastra. Pada tahap ini guru harus menentukan karya sastra mana yang akan disajikan. Karya sastra yang akan disajikan hendaknya tidak terlalu panjang. Usahakan karya sastra yang bisa disajikan dalam satu pertemuan. Hal lain yang harus ditentukan pada tahap ini adalah informasi apa yang perlu diberikan kepada siswa agar mempermudah siswa memahami karya sastra. Informasi/keterangan awal itu hendaknya jelas dan seperlunya. Pada tahap ini guru juga harus menentukan kapan karya sastra dibagikan.

Tahap ketiga adalah introduksi atau pengantar. Pada tahap ini guru memberikan,informasi awal berupa uraian singkat mengenai karya yang disajikan, termasuk juga informasi mengenai pengarangnya dan karya pengarangnya yang lain. Harap jangan Anda lupakan situasi dan kondisi saat suatu karya sastra diciptakan. Misalnya, ketika kita akan menyajikan cerita pendek "Robohnya Surau Kami" karya A.A. Navis, kita berbicara tentang masyarakat Minang kabau secara singkat, begitu pula tentang A.A. Navis dan karya-karyanya yang lain.

Tahap keempat adalah tahap penyajian. Pada tahap ini kita sebagai guru harus meyakini terlebih dahulu hakikat sastra yang bersifat lisan, khususnya puisi. Pada tahap ini, khususnya puisi lebih baik dibacakan dulu secara nyaring. Pembaca puisi tidak mesti selalu guru, tetapi bisa saja para siswa sendiri. Walaupun demikian, suara guru sebenarnya lebih mereka sukai. Hanya, kelemahannya mereka cenderung meniru apa yang dilakukan gurunya. Lagi pula, tidak setiap guru sastra mampu membacakan puisi dengan baik. Jadi,yang jadi model pembacaan puisi tidak mesti selalu guru. Pada kesempatan ada siswa yang sangat bagus, siswalah yang membacakan puisi. Justru yang harus didorong adalah agar seluas mungkin para siswa meyakini mereka bisa membaca puisi. Akan lebih baik bila misalnya ada model pembacaan puisi dari para penyair yang direkam. Model ini diperlukan hanya semacam pola, bukan yang harus diikuti secara persis dengan cara menirunya.

Alangkah baiknya bila suara yang membacakan puisi itu direkam pada media audio. Suara yang direkam bisa suara guru, siswa sendiri, atau penyair. Dengan demikian, model pembacaan itu dapat diulang-ulang bila sewaktu-waktu diperlukan. Bila suara guru sendiri yang diulang para siswa akan meyakini bahwa gurunya sebagai model profesional sekaligus akan membuat guru makin berwibawa di mata siswa. Akan tetapi, bila hal ini tidak mampu guru lakukan, guru bisa minta tolong kepada para siswa sendiri atau kepada siapa saja yang pembacaannya layak dijadikan model. Bagaimana dengan cerita pendek (juga novel)? Cerita pendek atau. novel tidak mesti selalu dibacakan seperti puisi. Untuk cerita pendek, mungkin saja satu cerita pendek itu dibacakan secara bergiliran di depan kelas setelah mereka membaca dalam hati masing-masing. Ini diperlukan untuk memberikan efek lebih pada penikmatan. seperti juga pada puisi, sekaligus ini merupakan bagian dari pelajaran membaca ekspresif dan pembelajaran apresiasi sastra. Dengan demikian, pembacaan karya sastra sekaligus meraih dua pulau, pulau pembelajaran apresiasi sastra dan pulau pelajaran membaca ekspresif. Hanya, guru juga sesekali boleh turut membacakan satu bagian dari cerita pendek. Jangan terlalu panjang. Biarkan bagian mereka yang lebih panjang. Untuk novel, bacalah satu atau dua fragmen dari suatu novel yang dianggap akan menarik minat siswa. Misalnya, jika mereka sedang membaca novel Jalan Tak Ada Ujung, Muchtar Lubis, bacakan beberapa bagian mengenai keragu-raguan guru Isa sehingga menyebabkannya mengalami impotensi. Bacakan pula bagian yang menggambarkan bagaimana keragu-raguan bahkan ketakutan yang selama ini mencekam guru Isa lenyap seketika.

Sebagai contoh kepada mereka diberikan sajak yang berjudul "Sajak Orang Gila", karya Sapardi Djoko Damono (Suryadi, 1987: 413-415). Pertama-tama sajak ini bisa saja dibacakan oleh salah seorang murid atau guru atau model pembaca (berupa rekaman). Sajak ini pada kedua kalinya bisa - atau bahkan ketiga atau keempat kalinya - dibaca secara bersama-sama oleh dua atau tiga orang Siswa dengan cara sebagai berikut.
Siswa I : aku bukan orang gila, saudara
Siswa II dan III : tapi anak-anak kecil mengejek orang-orang tertawa
Siswa I : ketika kukatakan kepada mereka: aku temanmu
Siswa II dan III : beberapa anak berlari ketakutan yang lain tiba melempari batu
Siswa I : aku menangis di bawah trembesi di atas dahan kudengar seekor burung bernyanyi anak-anak berkata: lucu benar orang gila itu sehari muput menangis tersedu-sedu.
Siswa II dan III : orang-orang yang lewat di jalan berkata pelan: orang itu sudah jadi gila sebab terlalu berat menafsir makna dunia
Siswa I : sekarang kususuri saja sepanjang jalan raga sambil bernyanyi: aku bukan orang gila
Siswa II dan III : lewat pintu serta lewat jendela nampak orang-orang menggelengkan kepada mereka: kasihan orang yang dulu terlampau sabar itu roda berputar, dan ia jadi begitu
Siswa I : kupukul tong sampan dan tiang listrik kunyanyikan lagu-lagu tentang lapar yang menarik kalau hari ini aku tak makan lagi jadi genap sudah berpuasa dalam tiga haritapi pasar sudah sepi, sayang sekali tak ada lagi yang memberikan nasi ke mana aku mesti pergi, ke mana lagi
Siswa II dan III : orang itu sudah lama gila, kata mereka tapi hari ini begitu pucat nampaknya apa kiranya yang telah terjadi padanya
Siswa I : akan kukatakan pads mereka: aku tidak gila!aku orang lapar, saudara
Siswa I : kudengar berkata seorang ibu:
Siswa I dan II : jangan kalian ganggu orang gila itu, anak kunanti kalian semua diburu
Siswa I : orang kota semua telah mengada-ada, aduhai menuduhku seorang yang sudah gila aku toh cuma menangis tanpa alasan tertawa-tawa sepanjang jalan dan lewat jendela, tergeleng kepada mereka:
Siswa II dan III : kurus benar sejak ia jadi gila Formasi pembacaannya bisa Anda variasikan sesuai dengan kondisi yang Anda hadapi. Yang terpenting dari kegiatan ini siswa beroleh efek yang lain yang membuat mereka lebih menikmati puisi bila dibandingkan dengan mereka membaca secara perseorangan.

Sampailah kita sekarang kepada tahap yang kelima yaitu tahap diskusi. Pada tahap ini berikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk memberikan tafsiran, walaupun pada bagian tertentu guru - sedikit demi sedikit memberikan kondisi agar mereka mampu menangkap makna karya sastra yang sedang dipelajari. Pada bagian ini beri mereka kesempatan untuk menyampaikan tanggapan tanpa campur tangan guru. Guru tetap diharap memiliki sikap "pasif-bijaksana". Artinya, kalau tidak perlu benar guru harus bisa menahan diri agar tidak ‘berbicara’.  Dorong mereka untuk menarik kesan umum, kesan khusus, dan kesan umum lagi untuk menarik simpulan. Dorong pula mereka agar menangkap ide global. Bagaimana ide itu ditunjukkan dalam kalimat-kalimat? Bagaimana penyusunannya? Apa arti kias karya sastra itu? Rincian-rincian tadi coba dipadukan untuk beroleh simpulan.

Hindari pembahasan yang tidak ada relevansinya dengan pembelajaran apresiasi sastra atau terlalu jauh misalnya membahas aspek tata bahasa karya sastra itu tanpa mengaitkannya dengan makna karya sastra tersebut. Dengan demikian, pernbelajaran apresiasi sastra tidak akan terperosok kepada pembelajaran tata bahasa belaka.

Baik, misalnya kita membahas "Sajak Orang Gila", karya Sapardi Djoko Damono tadi. Berikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya memancing diskusi mereka seperti pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Kesan umum puisi tersebut bagaimana?
2. Secara khusus kesan ouisi tersebut bagaimana?
3. Ide umum puisi tersebut berbicara tentang apa?
4. Bagaimana ide itu diwujudkan dalam puisi?
5. Sarana kebahasaan apa saja untuk mewujudkan hal itu?
6. Apakah makna sajak ini secara keseluruhan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut (bisa diidentifikasi sejumlah pertanyaan lagi) bersifat mengarahkan. Biarkan mereka menarik simpulan sendiri, tanpa campur tangan guru. Di sinilah guru harus bersikap ‘pasif bijaksana’. Bila mereka menemui jalan buntu,bantuan yang harus guru berikan bukan memberikan ikannya, tetapi berilah mereka pancingnya. Beri kebebasan mereka memancing ikan secara langsung. Bila diskusi mereka melebar kepada hal-hal yang jauh sekali dari pembahasan karya sastra, arahkan kembali misalnya dengan mengutip bagian yang relevan dari karya sastra yang sedang dipelajari.

Tahap terakhir dari langkah-langkah pembelajaran apresiasi sastra menurut Moody ini ialah pengukuhan. Pengukuhan di sini maksudnya langkah ini akan lebih mengukuhkan pemahaman siswa terhadap karya sastra yang dipelajari. Pengukuhan ini bisa dilakukan secara lisan, bisa pula secara tertulis. Pengukuhan yang bersifat lisan misalnya dengan cara mengusahakan agar tiap siswa membacakan puisi di depan kelas, tidak perlu secara perseorangan. Bisa saja secara berkelompok dengan cara membaca rampak seperti sudah ditunjukkan pada bagian/tahap penyajian tadi. Formulasinya berikan kepada mereka kebebasan berkreasi. Untuk apresiasi cerpen atau novel tidak mungkin hal ini dilakukan.Mungkin bisa dilakukan dengan cara pengukuhan tertulis, misalnya berupa tugas menulis esei tentang salah satu aspek yang menurut mereka menarik dari karya sastra tersebut. Contoh pengukuhan tertulis lainnya bisa dengan cara meminta mereka mengubah genre karya sastra, misalnya dari puisi menjadi cerpen atau sebaliknya.

Demikian artikel tentang Teori Pembelajaran Apresiasi Sastra Menurut Moody semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih sudah berkenan mengunjungi blog sederhana milik saya ini. Jangan lupa membaca artikel lain dari blog ini ya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Teori Pembelajaran Apresiasi Sastra Menurut Moody"

Post a Comment